Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Aroma wangi. Padahal, tak ada yang mengenakan parfum saat ini. Tepatnya saat aku mulai menjejalkan tumpuk demi tumpuk kata-kata tak terarah untuk menyusun sebuah artikel saja, aroma wangi itu kian menjalar ke setiap bagian tubuhku. Hingga aku merasa bebal karenanya. Bahkan saat ini juga, aku merasakan perasaan yang tak dapat tergambarkan oleh dahsyatnya personifikasi, hiperbola, ironi atau bahkan litotes. Aneh!
Saat diam berujar dengan keras. Linangan air mata tulus itu jatuh dengan sendirinya. Lebih tepatnya dalam sebuah ruangan yang luas jika kau buka pada dinding yang sangaat halus, jika kau raba dan rawat dengan baik. Aku merasakan betapa besarnya energi yang aku dapatkan hari ini, kawan? Hebatnya, aku tak tau sejak kapan aku memiliki energi seperti ini. Yang aku ingat memang beberapa waktu yang lalu, semangat menggebu-nggebu sempat tumbuh dengan cepat. Namun, ia dengan cepat pula sirna. Dan kini, aku merasakan yang lebih dari itu. Lebih lebih lebih. Semoga ia bertahan lebih lama. Everafter. Eternal. Aamiin.
Baru saja kutunaikan ibadahku sebagai seorang muslim dengan mengerjakan sholat dan tadarus al-qur’an setelah libur beberapa hari. Belum sempurna. Meski akupun tau, nothing is perfect, tetap saja aku merasakan jauh di bawah sempurna bawahnya lagi lebih jauh, yang membuatku semakin banyak menjatuhkan linangan air mata saat menunaikan sholat tadi. Rasa bersalah, menduakan-Nya dengan manusia. Harapan yang harus segera tersampaikan, aku ingin membuatnya bagai bisnis yang tak terelakkan, tak tergantikan dan tentu saja tak terhapuskan karena selalu ada dalam setiap langkah, gerak, tindakan, segala aspek yang ada dalam hidupku. Mungkin ada dari kalian yang mengira bahwa tulisan ini terlalu berlebihan atau apapun itu. Tapi, jujur helaan nafas, helaan udara, semua ini sudah terbiasa aku temui dalam sunyi, dalam gelap,dalam terang..semua adalah biasa, tapi tidak dalam waktu ini..aku merasakan betapa berharganya apa yang telah dianugerahkan-Nya. Namun, apa yang aku lakukan???
Tidak ada yang dapat mewakili besarnya dosa-dosa dari hal-hal yang telah aku perbuat dengan minimnya hal-hal baik yang telah aku lakukan. Akankah selaput mataku ini suatu saat nanti dapat melihatnya indahnya surga?? Bagiku ini mimpi terbesar saat ini, yang aku pikir masih terlalu jauh untuk dipikirkan dengan gunung dosa yang ada, MEMPERBAIKI. Iya. Menyetel ulang. Itulah solusi terbaik saat ini.
0 komentar:
Posting Komentar