Jumat, 24 Februari 2012

:p nanana :)

Assalam.


*****


Muak. Ingin rasanya selalu menyediakan seonggok wadah sebagai alas untuk memuntahkan ini semua. Ini tak tergambarkan dalam penggambaran apapun dengan majas apapun juga. NOTHING! Just that, this is a very real feeling but why couldn’t I express this. I need something. But, I don’t know what’s that?


Ia yang tiba-tiba datang..pun juga tiba-tiba pergi. Andai orang-orang yang kumaksud-i membaca kisah-kisah sederhana Anye ini. Apakah kalian akan memahami bahwa tokoh-tokoh ini adalah kalian hai teman-temanku?


Sebenarnya, angin itu telah datang kembali. Setelah ia sudah ditegarkan kembali oleh kokohnya ranting, kuatnya batang dan dinginnya pohon, angin itu kembali datang. Hampir saja ia meruntuhkanku. Kata Tere-Liye, daun yang jatuh tak akan pernah membenci angin, dan mungkin itu benar bagiku. Aku tidak tahu persisnya kapan, kembalinya angin itu meniupkan bisikan lirih untuk menggugurkan daunku. Lebih tepatnya, setiap kunjungan angin itu, aku tidak pernah tahu kapan ia datang. Namun, aku selalu tau kapan ia pergi. Dan anehnya, walau ku tau ia datang dengan tujuan pokok untuk menggoyahkanku atau bahkan dengan peruntungan untuk segera menggugurkanku, lemah jatuh menuju tanah, terurai organism, menjadi tanah, dalam bagiannya yang disebut humus or whatever u named it. But, the most important thing is I never know what’s the main thing, the only a thing of his purpose, sehingga ia selalu membayang-bayangiku setiap ia hampir musnah dari angan ini.


            But, that’s enough for the ‘penggalauan’ because no benefit I got from this thing if it always stays in my mind. NO EVER!!


Jadi, inilah yang aku putuskan, semoga ini keputusan yang terbaik dalam SEMI-akhir kisah tentang daun yang jatuh tak pernah membenci angin, walau dalam kisahku sebenarnya aku adalah sebatang pohon..but, I’ve said that everything could be compared with any other things suitable with ur mind..OMG! Lunatic! :P yeah..I’ve known..


Well, lega rasanya. Siang itu, molekul-molekul yang tak terdefinisikan itu bisa juga ku muntahkan dengan adanya sahabat-sahabatku. Mereka mau menampung semua ini. Meskipun, kecerdikan juga masih harus kulancarkan dalam memilih mereka yang kuberi dongeng ini. Tentu..aku tidak mau membuat kesalahan yang sama dengan menjadikannya menjadi sahabat yang salah. Tak akan! J Solusi dari mereka tidak ku dapatkan memang, tapi minimal mereka adalah ranting-ranting yang baik, dahan-dahan yang kuat, yang dapat menopangku untuk tidak mudah jatuh, meski besarnya beliung sebenarnya cukup dapat menggugurkanku (jika tak ada mereka). Namun, satu kesimpulan yang aku dapatkan, angin-angin, ataupun bencana lain yang siap membuatku gugur…aku tidak akan pernah tau kapan mereka berhenti menggangguku, atau justru aku yang mengganggu mereka.. hanya satu yang bisa menjawab… It’s time, ia adalah WAKTU.


*****


Wassalam.










0 komentar:

Posting Komentar